Di sebuah sudut ruang kelas ada seorang bocah yang sedang menatap indahnya langit lazuardi yang cerah dari balik jendela kelas. Dia merenung sendirian di pojok kelas itu. Dia membayangkan betapa menyenangkan dapat hidup bebas seprti burung-burung yang terbang kian kemari menembus cakrawala, dia sangat ingin seperti itu menembus cakrawala tanpa batas.
Ia ingin merasakan kebebasan pada dirinya dari tekanan-tekanan yang datang silih berganti bagai deruan ombak laut yang memecah karang. Di pandangnya suasana kelas yang penuh celoteh anak yang bermain.
Tapi di lalu tersadar bahwa hal itu memang tidak mungkin terjadi karena dia selalu menyembunyikan semua permasalahannya di balik tirai hatinya dengan rapat-rapat yang tak seorang pun mampu menjamahnya.
Pernah suatu hari beberapa temannya mendekatinya. Mereka mencoba menghibur dan memberi semangat.
Tapi dia langsung berbicara, “Biarkanlah aku sendri dulu. Biarkanlah aku berkumpul dengan hati-hatiku yang merana”.
Ketika pulang sekolah dia tidak sengaja melewati sebuah padang rumput yang luas dan indah. Disana dia beristirahat untuk melepaskan kepenatantan setalah belajar dan mencurahkan isi hatinya pada alam.
“Wahai alam-alam yang indah, apa aku boleh bertanya? Bagaimana perasanmu jika disakiti? Bagaimana? Apakah akan terasa sakit? Bagaimana cara menghilangkannya? Bagaimana? Berilah aku petunjuk? Lewat angin yang kau tiupkan, lewat panas yang kau pancarkan, lewat hujan yang kau siramkan. Tolonglah aku! Tolooooong!”. Setelah puas meneriakan luapan hatinya dia memutuskan untuk segera pulang.
Sebenarnya dia sedang menghadapi masalah yang besar tapi dia tidak mempunyai tempat untuk mencurahkan luapan hatinya. Dia sangat kesepian menapaki jalan kehidupan. Dia membutuhkan seorang teman yang mau mendengarkan repihan isi hatinya. Tapi dia takut mencoba mencari sahabat yang diidamkannya. Karna dulu ia pernah dikhianati oleh seorang sahabat yang sangat dekat dengannya.
Sejak saat itu perilakunya menjadi agak aneh. Dia lebih banyak menyendiri, diam termenung. Dia selalu menjauh jika ada orang yang kasihan menatap keadaannya. Ia sadar bahwa ia tidak mampu mendapatkan sahabat sejati. Seseorang yang mau mendengar keluh kesahnya yang keluar dari setiap hembusan nafasnya. Dan dia tak kan menemukannya karna sahabat sejati baginya hanya ada di dalam dongeng.
Mungkin dia hanya seorang pemimpi yang memimpikan persahabatan. Dia mungkin sudah tidak akan menemukan rayuan-rayuan yang membuat seseorang terpedaya. Yang hanya dia temukan hanyalah puing- puing jiwa.