Saturday, November 27, 2010

surat dari sahabat

subuh itu aku melihatmu
sendiri...
bermandikan embun-embun surga
tapi mengapa tiada tawa disana
bahkan seulas senyum pun terasa terlalu mahal

maka ketika kau teteskan air mata
bersama gugurnya daun subuh tadi
aku hanya bisa memandang iba

terdiam dalam kata dan terpekur
sebab sebanyak apapun kata terucap dari bibir ku
tak cukup...
tak mampu....
untuk menghiburmu

karena mendung itumasih bergelayut disana
sedang aku bukanlah anginyang mampu menerbangkannya
bukanlah mentari yang mampu menghangatkanmu

Thursday, November 25, 2010

Permata

Sebuah senyum menghiasi pertemuan kita. 
Celoteh bocah-bocah berpadu dengan cerahnya hari itu.
Tawa kecil keluar dari mulut mu yang manis.
Tatapan matamu membangunkan jiwa-jiwa terpendam.
Nafasmu mencairkan hati yang telah membeku.
Senyummu mengukir keindahan pelangi ditaman langit.
Suaramu berpadu menjadi sebuah simfoni kehidupan.

Mungkin....
Itulah perjumpaan terakhir kita.
Dengan iringan waktu yang menghampiri ku.
Ku tak sanggup menolaknya.
Ku harus melepasmu.
Melepas sebuah ketakjuban demi senyum pelangi di bibirmu.
Meski hati ini menjerit, tak kan memanggilmu kembali.
Meski jiwa ini menangis, tak kan menjemput langkahmu kembali.

Jiwa yang lama musnah tersapu bagai debu.
Kini yang tertinggal adalah jiwa baru.
Lebih bercahaya.
Lebih siap menyongsong hari-hari baru.

Metamorfosis akan terjadi dihidupku.
Impian yang lama kan ku musnahkan.
Tuk menjemput mimpi-mimpi yang siap ku ukir.
Hinggap menjadi sebuah rangkain repihan hati.
Akan ku jalani jalan baru yang terbentang di depan ku.


Saturday, August 28, 2010

Sebuah Memori

Begitu banyak jalan yang ku jalani
Buatku lelah tuk melangkah
Keputusasaan singgah di relungku
Yang tak mampu ku tepisnya

Namun,
Hadir mu dibongkahan asa ku
Kembalikan lagi arti hidup ku
Kau isi pikiranku
Dengan indahnya menatap hidup
Kau beriku kebahagiaan
Yang tak kudapati sebelumnya

Mencintaimu,
Jadikan diriku lebih tegar
Jadikan aku lebih dewasa
Dirimu bagai tetesan embun
Yang sejukkan telaga kering hatiku
Dirimu bagai cahaya terang
Yang terangi sudut gelap hati ini

Monday, July 19, 2010

kekalahan

Dalam sebuah keheningan malam yang mencekam....
Disaat angin dan petir saling bertarung diundara....
Kebimbangan dalam diriku mulai muncul...
Bayang-bayang kegelapan mulai muncul dari dasar neraka...
Mereka sedang merayakan hari kebangkitan mereka.....

Kenapa ini semua terjadi?????
Kenapa mereka dapat menembus neraka????
Dimana pintu neraka dijaga oleh cerberrus!!!
Hanya ada satu jawaban!!!!

Ini karena iman seseorang mulai luluh.
Mereka luluh karena kenikmatan dunia yang fana
Sungguh sayang,...
Karena terlena oleh dunia ini,..
Mereka tidak akan pernah merasakan,
kenikmatan surgawi, 
kenikmatan yang kekal dan abadi.....

Sungguh,,,,,,,,
Sungguh kita kalah dengan iblis..
Iblis yang bersumpah menjerumuskan kita
Iblis yang dikutuk karena mengingkari_Nya
Iblis yang merasa dirinya mahkluk yang hebat
Hati-hatilah pada mereka!!!!!
Hati-hatilah pada iblis yang bersemanyam dihatimu!!!!

Wednesday, July 7, 2010

Kehancuran


Kau datang membawa kesejukan
kedalam relung hatiku
Kau datang membawa seberkas cahaya
yang menyinari sisi hatiku yang gelap
Kau bawa setetes embun
yang membasahi hatiku yang haus kan cinta
Kau bawa dawai sang dewa
tuk menidurkan tingkah liarku

Kau rangkai repihan hatiku
yang hancur menjadi sebuah alunan cinta
Dengan iringan waktu,
Kau tlah memikat hatiku
Disaat aku terlena oleh cintamu

Kau datang dengan sebuah belati
yang mampu merobek hatiku
Kau tiupkan badai salju
yang membuat hatiku beku
Kau berikan terjangan ombak hingga……..
Hati yang tlah kau rangkai
menjadi berkeping-keping

Kau tlah buat hidupku menjadi kelam
Adilkah ini tuk ku?????
Haruskah kujalani hidup tanpa cinta???
Tapi……
Aku sadar itu takdir sang PENCIPTA

celoteh dikala langit menangis

Inilah kisah celoteh 2 anak manusia dimana matahari mulai memasuki peraduannya dan langit sedang menangis. Sedangkan angin berhembus membawa sebuah belati yang siap menusuk tulang jiwa-jiwa yang tenang. Sebut saja mereka pipao dan dewa....
Pipao: "Bucahan air langit melejit mencelup bongkahan berkehidupan hingga ke akarnya. Sebagian mencipta ketukan melodi dari atap meluncur memercik batu kerikil."
Dewa: "Gemericik melodi air disaut alunan suara penghuni malam membuat harmoni-harmoni kehidupan terasa indah. Hembusan angin menambah pekatnya sang malam."
Pipao: "Mendarat di landasan hijau yang kini hanya tergambar remang.. mengalir, menggelayut.. mengumpul di pucuk, jatuh, meresap entah sampai rengkahan mana... gerak lamban yang mempesona bukan? Temaram berselimut derai angin, menyisir anak-anak rambut... menelisik daun telinga, syahdu menyeka mata -simfoni calm qolbu-"
Dewa "Saut-saut penghuni malam bagai melodi dawai harpa yang dipetik oleh para dewi. Merenggut kekosongan jiwa-jiwa terdalam."
Dewa: "Mencipta dunia terasing, sunyi menggelora.. di bawah langit yang sama, pijakkan yang berbeda tapi masih sama.. malam kian tercelup hitam, penutup perputaran rembulan.."
Dewa: "Waktu berjalan menyusuri heningnya malam. Sang bulan mulai masuk ke peraduan. Suara kicauan anak-anak telah lenyap karena telah bergelut dengan sang waktu."
Inilah segelintir percakapan yang meraka lakukan untuk menghabiskan waktu disaat langit menangis karena dunia yan telah rusak. Sebuah memori yang sangat indah... Simfoni yang sangat indah.. Melodi yang sangat merdu...

Wednesday, May 5, 2010

Bimbang

Langit mendung itu menyelimuti jiwa Q....
Angin malam itu menusuk tulang Q.....
Belati itu merobek hati Q.....
Racun itu membius Q....

Tetapi mengapa diri ini tak mampu menepisnya...
Diantara kebimbangan.....
Antara ada dan tiada....
Karena.....

Kau tlah pergi slamanya...
Kau hidup diruang waktu yang berbeda dengan Q....
Semoga kau bahagia....

Serpihan Hati

Ketika jiwa-jiwa berpaut dalam rangkaian kebahgiaan......
Sebuah kesedihan datang menghampiri nya....
Kenangan yang terukir hancur menjdi serpihan-serpihan hati
yang berserakan diantara jiwa-jiwa kosong....
Saat terakhir berjumpa dg nya...
Saat itu pula... Prahara menjeputnya....
Serpihan'' hati dihempas oleh angin kehidupan yg kejam....
Kemanakah serpihan-serpihan itu akan membentuk sebuah rajutan-rajutan kebahagiaan yang baru???
Kapankah serpihan-serpihan itu akan bergabung kembali????
Terbanglah serpihan-serpihan hati ini...
Temukan kebahagiaan sejati yang bisa membuatmu kembali lagi....

Nafas Terakhir

Kaki ini tak lagi mampu melangkah bersamamu.....
Tangan ini tak mampu lagi menggenggam tanganmu....
Mata ini tak mampu lagi melihat pesonamu....
Telinga ini tak mampu lagi mendengar tawa ceria mu....
Pikiran ini tak mampu lagi memikirkanmu....

Ketika kau hembus kan nafas terakhirmu....
Itulah perpisahan kita dimulai....
Itulah tetesan air mata mulai mengalir...
Itulah terakhir kali kita bertemu....

Kau tlah pergi untuk slamanya....
Semoga kita dapat bertemu di dimensi lain...
Istirahat lah dengan tenang...
Ku kan jaga kenangan ini....
Namamu kan tetap terukir dalam prasasti ini seperti dalam batu nisan mu.....

Tuesday, April 20, 2010

BAC

Di malam yang sunyi ini,
ku diam termenung
Tiba-tiba suatu bayangan masa lalu
menari-nari didalam otak ku

Satu tahun kita bersama menjalin cinta
Tapi janji-janji yang telah terucap
hancur karena kita sudah tersesat
dan takkan sejalan lagi tuk lewati hidup ini

Senyum pelangi yang selalu menghiasi hidup kita
Hilang....
ditelan oleh kegelapan malam
Selamat jalan kasih...
Dibawah batu nisan ini..
Berbahagialah engkau disana..

HEART

Saat mentari bangun dari peraduan
Kicauan burung-burung telah terdengar
Bunga-bunga merekah menyambutnya

Tapi...
Tapi kenapa hatimasih terasa gelap?
Hatiku ini seakan diselimuti mendung yang kelam
Hatiku seperti guguran bunga dimusim gugur yang tidak berbentuk
Hatiku seperti sungai disaat musim kemarau

Bagaimana????......
Bagaimana agar aku bisa mengatasinya??
Apakah hanya karena ilusi cintaku,,,,
aku kan menderita???
Bagaimana agar aku bisa memusnahkan ilusi cinta itu??

Kenapa???
Kenapa disaat aku bertempur
dengan acala yang ada didalam diriku
Ilusi cinta meninggalkanku???
Apakah hati ini mampu mengatasi keduanya??
Acala...
Ilusi cinta...
Kenapa harus muncul bersamaan????

Friday, April 16, 2010

Penghianatan

Ketika pertama kita bertemu
Itulah saat munculnya aroma kehidupan dari kesadarannya
Itulah nada magis pertama yanng dipetik
dari dawai perak hati manusia
Itulah benih yang ditabur oleh Venus
dari tempat yang tinggi

Untaian waktu datang dengan tenang
Menyapa kita di pagi hari dan....
menelan kesunyian di malam kelam
Dalam segelintir waktu....
Engkau datang dengan senyum pelangi kehidupan
Aroma magis dawai kehidupan terasa sangat manis

Tapi.....
Aroma kehidupan itu telah membusuk
ditelan oleh penghianatan
Nada magis sudah tak terdengar
Dan benih cinta yang ditabur sang Dewi
membusuk di dalam hati

Atas nama cinta yang menyatukan jiwa
Ku relakan engkau pergi
Dan biarkanlah aku berkumpul dengan
hatiku yang merana
Bebaskan diriku dari mimpiku
Mungkin itu yang terbaik untuk kita

Wednesday, January 27, 2010

Diantara Puing-Puing

     Di sebuah sudut ruang kelas ada seorang bocah yang sedang menatap indahnya langit lazuardi yang cerah dari balik jendela kelas. Dia merenung sendirian di pojok kelas itu. Dia membayangkan betapa menyenangkan dapat hidup bebas seprti burung-burung yang terbang kian kemari menembus cakrawala, dia sangat ingin seperti itu menembus cakrawala tanpa batas.
     Ia ingin merasakan kebebasan pada dirinya dari tekanan-tekanan yang datang silih berganti bagai deruan ombak laut yang memecah karang. Di pandangnya suasana kelas yang penuh celoteh anak yang bermain.
     Tapi di lalu tersadar bahwa hal itu memang tidak mungkin terjadi karena dia selalu menyembunyikan semua permasalahannya di balik tirai hatinya dengan rapat-rapat yang tak seorang pun mampu menjamahnya.
     Pernah suatu hari beberapa temannya mendekatinya. Mereka mencoba menghibur dan memberi semangat.
Tapi dia langsung berbicara, “Biarkanlah aku sendri dulu. Biarkanlah aku berkumpul dengan hati-hatiku yang merana”.
     Ketika pulang sekolah dia tidak sengaja melewati sebuah padang rumput yang luas dan indah. Disana dia beristirahat untuk melepaskan kepenatantan setalah belajar dan mencurahkan isi hatinya pada alam.
“Wahai alam-alam yang indah, apa aku boleh bertanya? Bagaimana perasanmu jika disakiti? Bagaimana? Apakah akan terasa sakit? Bagaimana cara menghilangkannya? Bagaimana? Berilah aku petunjuk? Lewat angin yang kau tiupkan, lewat panas yang kau pancarkan, lewat hujan yang kau siramkan. Tolonglah aku! Tolooooong!”. Setelah puas meneriakan luapan hatinya dia memutuskan untuk segera pulang.
Sebenarnya dia sedang menghadapi masalah yang besar tapi dia tidak mempunyai tempat untuk mencurahkan luapan hatinya. Dia sangat kesepian menapaki jalan kehidupan. Dia membutuhkan seorang teman yang mau mendengarkan repihan isi hatinya. Tapi dia takut mencoba mencari sahabat yang diidamkannya. Karna dulu ia pernah dikhianati oleh seorang sahabat yang sangat dekat dengannya.
     Sejak saat itu perilakunya menjadi agak aneh. Dia lebih banyak menyendiri, diam termenung. Dia selalu menjauh jika ada orang yang kasihan menatap keadaannya. Ia sadar bahwa ia tidak mampu mendapatkan sahabat sejati. Seseorang yang mau mendengar keluh kesahnya yang keluar dari setiap hembusan nafasnya. Dan dia tak kan menemukannya karna sahabat sejati baginya hanya ada di dalam dongeng.
Mungkin dia hanya seorang pemimpi yang memimpikan persahabatan. Dia mungkin sudah tidak akan menemukan rayuan-rayuan yang membuat seseorang terpedaya. Yang hanya dia temukan hanyalah puing- puing jiwa.

Luka Hati

Ku merenung seorang diri
Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi

Hati ini terasa sangat perih
hanya karna tertusuk
setangkai mawar yang indah
Bunga itu tlah menusuk hatiku
hingga tetesan kesedihan
membangunkan jiwaku
yang tlah terlena
oleh kenikmatan cinta

Darah yang keluar dari hatiku
membuat jiwa-jiwaku yang terpendam
muncul menjadi kobaran api
yang mampu membakar
jiwa-jiwa yang tak berdaya

Luka itu pun membuat hatiku beku
menjadi es abadi
yang tak dapat dicairkan oleh api asmara

Hatiku bagai badai
yang berkecamuk hingga merobohkan jiwaku
Luka hati yang kau buat
membuatku tak berdaya

Jiwa, tubuh, serta perasaan
jadi tak terkendali
Lalu bagaimana aku menghadapinya???
Apakah aku harus slalu menyendiri?
Aku…

Cinta Sejati

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan kedamaian dalam jiwaku
Engkau ciptakan kerinduan dalam sepiku.
Engkau ciptakan kebahagiaan dalam hidupku.
Engkau ciptakan mimpi terindah dalam tidurku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan bunga terindah dalam taman hatiku.
Engkau ciptakan prahara dalam kegelisahanku.
Engkau ciptakan cahaya dalam kegelapanku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan tawa dalam kesendirianku.
Engkau ciptakan simfoni dalam tiap langkahku.
Engkau ciptakan senyum dalam dukaku.
Engkau ciptakan kesejukkan dalam relung hatiku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan ketakjuban dalam hidupku
Engkau ciptakan imajinasi dalm lamaunanku.
Engkau ciptakan…….cintaku.

Air Mata

Canda tawamu
yang menghiasi persahabatan kita
slama beberapa tahun
harus hangus terbakar
karena halilintar yang kau beri
Aku tak menyangka
kau mampu berbuat seperti itu
Hingga membuat emosi jiwaku bergejolak
yang mampu menembus langit dan bumi

Slama pendakian hidupku
baru kali ini kurasakan panasnya
sambaran halilintar
dan itu pun bersal darimu

Sambaran itu pun tak bisa padam
hanya dengan tetesan air mata penyesalanmu
Dan luka itu akan membekas slamanya
Hanya sang waktu yang dapat mengubahnya

Penantian

Aku adalah seorang yang keras hati
yang tak mampu merasakan ketulusan cinta
Apa yang harus kulakukan?

Didalam sebuah penantian
Aku menantikan wanita
yang mampu mencairkan hatiku yang beku
Aku mendambakan tawa
yang membuat bidadari memetik dawai hatiku
Aku mendambakan seseorang
yang mampu mengisi cawan hatiku
yang tlah kering dengan tetesan anggur cinta

Aku mengharap seorang gadis
yang membawa lentera cinta
tuk menyinari hatiku yang gelap
Aku memimpikan gadis
yang mampu meniupkan aroma cinta kedalam hatiku

Aku menantikan wanita
yang dapat membebaskan hatiku yang terbelenggu
Aku menantikan seseorang
yang bisa membangunkan lamunanku
Yang kunanti adalah………KAU

Thursday, January 21, 2010

Kekosongan

Aku tak mengerti kau……
Yang slama ini slalu kukasihi
Diam-diam kau tusukkan pedang
yang menghunus jiwaku hingga…..
Hatiku terkoyak menjadi
repihan hati yang tak berarti

Apakah salahku padamu
hingga kau berbuat sekejam ini?
Luka lama yang belum sembuh
kau lukai lagi hingga……
Hati dan jiwaku menjadi tak berarti

Apakah kau tega meliatku?
Aku bagai musafir
yang mengembara memcari
tetesan kasih sayangmu di padang gurun
yang gersang seorang diri

Tapi apa yang ku dapat tak seperti yang kuharap
Yang kudapat hanya “kekosongan”
Aku bagai harimau
yang kehilangan taringnya
Yang membuatku tak berdaya
Aku bagai elang
yang kehilangan sayap
yang tak dapat lagi menembus
langit lazuardi yang luas

Wednesday, January 20, 2010

Kehancuran


Kau datang membawa kesejukan
kedalam relung hatiku
Kau datang membawa seberkas cahaya
yang menyinari sisi hatiku yang gelap
Kau bawa setetes embun
yang membasahi hatiku yang haus kan cinta
Kau bawa dawai sang dewa
tuk menidurkan tingkah liarku
Kau rangkai repihan hatiku  
yang hancur menjadi sebuah alunan cinta 
Dengan iringan waktu, 
Kau tlah memikat hatiku 
Disaat aku terlena oleh cintamu

Kau datang dengan sebuah belati
yang mampu merobek hatiku
Kau tiupkan badai salju
yang membuat hatiku beku
Kau berikan terjangan ombak hingga……..
Hati yang tlah kau rangkai
menjadi berkeping-keping

Kau tlah buat hidupku menjadi kelam
Adilkah ini tuk ku?????
Haruskah kujalani hidup tanpa cinta???
Tapi……
Aku sadar itu takdir sang PENCIPTA

Pesona

Ketika melihatmu hatiku terpesona

Nada bicaramu

bagai nyanyian bidadari

Senyummu bagai pelangi

yang menawan hati

Tatap matamu

berkilauan bagai permata

Keceriaanmu

bagai bunga di musim semi

Tangismu bagai mata air

yang mengalir

Kemarahanmu bagai halilintar

yang menyambar bumi

Kesedihanmu

bagai angin di musim gugur

Itulah pesona

yang slalu kau berikan

yang membuat orang kagum padamu

Pesona yang kau miliki

mempunyai kekuatan

yang mampu menghancurkan

tembok hati yang keras bagai baja

PESONAmu……….