Wednesday, January 27, 2010

Diantara Puing-Puing

     Di sebuah sudut ruang kelas ada seorang bocah yang sedang menatap indahnya langit lazuardi yang cerah dari balik jendela kelas. Dia merenung sendirian di pojok kelas itu. Dia membayangkan betapa menyenangkan dapat hidup bebas seprti burung-burung yang terbang kian kemari menembus cakrawala, dia sangat ingin seperti itu menembus cakrawala tanpa batas.
     Ia ingin merasakan kebebasan pada dirinya dari tekanan-tekanan yang datang silih berganti bagai deruan ombak laut yang memecah karang. Di pandangnya suasana kelas yang penuh celoteh anak yang bermain.
     Tapi di lalu tersadar bahwa hal itu memang tidak mungkin terjadi karena dia selalu menyembunyikan semua permasalahannya di balik tirai hatinya dengan rapat-rapat yang tak seorang pun mampu menjamahnya.
     Pernah suatu hari beberapa temannya mendekatinya. Mereka mencoba menghibur dan memberi semangat.
Tapi dia langsung berbicara, “Biarkanlah aku sendri dulu. Biarkanlah aku berkumpul dengan hati-hatiku yang merana”.
     Ketika pulang sekolah dia tidak sengaja melewati sebuah padang rumput yang luas dan indah. Disana dia beristirahat untuk melepaskan kepenatantan setalah belajar dan mencurahkan isi hatinya pada alam.
“Wahai alam-alam yang indah, apa aku boleh bertanya? Bagaimana perasanmu jika disakiti? Bagaimana? Apakah akan terasa sakit? Bagaimana cara menghilangkannya? Bagaimana? Berilah aku petunjuk? Lewat angin yang kau tiupkan, lewat panas yang kau pancarkan, lewat hujan yang kau siramkan. Tolonglah aku! Tolooooong!”. Setelah puas meneriakan luapan hatinya dia memutuskan untuk segera pulang.
Sebenarnya dia sedang menghadapi masalah yang besar tapi dia tidak mempunyai tempat untuk mencurahkan luapan hatinya. Dia sangat kesepian menapaki jalan kehidupan. Dia membutuhkan seorang teman yang mau mendengarkan repihan isi hatinya. Tapi dia takut mencoba mencari sahabat yang diidamkannya. Karna dulu ia pernah dikhianati oleh seorang sahabat yang sangat dekat dengannya.
     Sejak saat itu perilakunya menjadi agak aneh. Dia lebih banyak menyendiri, diam termenung. Dia selalu menjauh jika ada orang yang kasihan menatap keadaannya. Ia sadar bahwa ia tidak mampu mendapatkan sahabat sejati. Seseorang yang mau mendengar keluh kesahnya yang keluar dari setiap hembusan nafasnya. Dan dia tak kan menemukannya karna sahabat sejati baginya hanya ada di dalam dongeng.
Mungkin dia hanya seorang pemimpi yang memimpikan persahabatan. Dia mungkin sudah tidak akan menemukan rayuan-rayuan yang membuat seseorang terpedaya. Yang hanya dia temukan hanyalah puing- puing jiwa.

Luka Hati

Ku merenung seorang diri
Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi

Hati ini terasa sangat perih
hanya karna tertusuk
setangkai mawar yang indah
Bunga itu tlah menusuk hatiku
hingga tetesan kesedihan
membangunkan jiwaku
yang tlah terlena
oleh kenikmatan cinta

Darah yang keluar dari hatiku
membuat jiwa-jiwaku yang terpendam
muncul menjadi kobaran api
yang mampu membakar
jiwa-jiwa yang tak berdaya

Luka itu pun membuat hatiku beku
menjadi es abadi
yang tak dapat dicairkan oleh api asmara

Hatiku bagai badai
yang berkecamuk hingga merobohkan jiwaku
Luka hati yang kau buat
membuatku tak berdaya

Jiwa, tubuh, serta perasaan
jadi tak terkendali
Lalu bagaimana aku menghadapinya???
Apakah aku harus slalu menyendiri?
Aku…

Cinta Sejati

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan kedamaian dalam jiwaku
Engkau ciptakan kerinduan dalam sepiku.
Engkau ciptakan kebahagiaan dalam hidupku.
Engkau ciptakan mimpi terindah dalam tidurku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan bunga terindah dalam taman hatiku.
Engkau ciptakan prahara dalam kegelisahanku.
Engkau ciptakan cahaya dalam kegelapanku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan tawa dalam kesendirianku.
Engkau ciptakan simfoni dalam tiap langkahku.
Engkau ciptakan senyum dalam dukaku.
Engkau ciptakan kesejukkan dalam relung hatiku.

Wahai cinta sejati,
Engkau ciptakan ketakjuban dalam hidupku
Engkau ciptakan imajinasi dalm lamaunanku.
Engkau ciptakan…….cintaku.

Air Mata

Canda tawamu
yang menghiasi persahabatan kita
slama beberapa tahun
harus hangus terbakar
karena halilintar yang kau beri
Aku tak menyangka
kau mampu berbuat seperti itu
Hingga membuat emosi jiwaku bergejolak
yang mampu menembus langit dan bumi

Slama pendakian hidupku
baru kali ini kurasakan panasnya
sambaran halilintar
dan itu pun bersal darimu

Sambaran itu pun tak bisa padam
hanya dengan tetesan air mata penyesalanmu
Dan luka itu akan membekas slamanya
Hanya sang waktu yang dapat mengubahnya

Penantian

Aku adalah seorang yang keras hati
yang tak mampu merasakan ketulusan cinta
Apa yang harus kulakukan?

Didalam sebuah penantian
Aku menantikan wanita
yang mampu mencairkan hatiku yang beku
Aku mendambakan tawa
yang membuat bidadari memetik dawai hatiku
Aku mendambakan seseorang
yang mampu mengisi cawan hatiku
yang tlah kering dengan tetesan anggur cinta

Aku mengharap seorang gadis
yang membawa lentera cinta
tuk menyinari hatiku yang gelap
Aku memimpikan gadis
yang mampu meniupkan aroma cinta kedalam hatiku

Aku menantikan wanita
yang dapat membebaskan hatiku yang terbelenggu
Aku menantikan seseorang
yang bisa membangunkan lamunanku
Yang kunanti adalah………KAU

Thursday, January 21, 2010

Kekosongan

Aku tak mengerti kau……
Yang slama ini slalu kukasihi
Diam-diam kau tusukkan pedang
yang menghunus jiwaku hingga…..
Hatiku terkoyak menjadi
repihan hati yang tak berarti

Apakah salahku padamu
hingga kau berbuat sekejam ini?
Luka lama yang belum sembuh
kau lukai lagi hingga……
Hati dan jiwaku menjadi tak berarti

Apakah kau tega meliatku?
Aku bagai musafir
yang mengembara memcari
tetesan kasih sayangmu di padang gurun
yang gersang seorang diri

Tapi apa yang ku dapat tak seperti yang kuharap
Yang kudapat hanya “kekosongan”
Aku bagai harimau
yang kehilangan taringnya
Yang membuatku tak berdaya
Aku bagai elang
yang kehilangan sayap
yang tak dapat lagi menembus
langit lazuardi yang luas

Wednesday, January 20, 2010

Kehancuran


Kau datang membawa kesejukan
kedalam relung hatiku
Kau datang membawa seberkas cahaya
yang menyinari sisi hatiku yang gelap
Kau bawa setetes embun
yang membasahi hatiku yang haus kan cinta
Kau bawa dawai sang dewa
tuk menidurkan tingkah liarku
Kau rangkai repihan hatiku  
yang hancur menjadi sebuah alunan cinta 
Dengan iringan waktu, 
Kau tlah memikat hatiku 
Disaat aku terlena oleh cintamu

Kau datang dengan sebuah belati
yang mampu merobek hatiku
Kau tiupkan badai salju
yang membuat hatiku beku
Kau berikan terjangan ombak hingga……..
Hati yang tlah kau rangkai
menjadi berkeping-keping

Kau tlah buat hidupku menjadi kelam
Adilkah ini tuk ku?????
Haruskah kujalani hidup tanpa cinta???
Tapi……
Aku sadar itu takdir sang PENCIPTA

Pesona

Ketika melihatmu hatiku terpesona

Nada bicaramu

bagai nyanyian bidadari

Senyummu bagai pelangi

yang menawan hati

Tatap matamu

berkilauan bagai permata

Keceriaanmu

bagai bunga di musim semi

Tangismu bagai mata air

yang mengalir

Kemarahanmu bagai halilintar

yang menyambar bumi

Kesedihanmu

bagai angin di musim gugur

Itulah pesona

yang slalu kau berikan

yang membuat orang kagum padamu

Pesona yang kau miliki

mempunyai kekuatan

yang mampu menghancurkan

tembok hati yang keras bagai baja

PESONAmu……….