Inilah kisah celoteh 2 anak manusia dimana matahari mulai memasuki peraduannya dan langit sedang menangis. Sedangkan angin berhembus membawa sebuah belati yang siap menusuk tulang jiwa-jiwa yang tenang. Sebut saja mereka pipao dan dewa....
Pipao: "Bucahan air langit melejit mencelup bongkahan berkehidupan hingga ke akarnya. Sebagian mencipta ketukan melodi dari atap meluncur memercik batu kerikil."
Dewa: "Gemericik melodi air disaut alunan suara penghuni malam membuat harmoni-harmoni kehidupan terasa indah. Hembusan angin menambah pekatnya sang malam."
Pipao: "Mendarat di landasan hijau yang kini hanya tergambar remang.. mengalir, menggelayut.. mengumpul di pucuk, jatuh, meresap entah sampai rengkahan mana... gerak lamban yang mempesona bukan? Temaram berselimut derai angin, menyisir anak-anak rambut... menelisik daun telinga, syahdu menyeka mata -simfoni calm qolbu-"
Dewa "Saut-saut penghuni malam bagai melodi dawai harpa yang dipetik oleh para dewi. Merenggut kekosongan jiwa-jiwa terdalam."
Dewa: "Mencipta dunia terasing, sunyi menggelora.. di bawah langit yang sama, pijakkan yang berbeda tapi masih sama.. malam kian tercelup hitam, penutup perputaran rembulan.."
Dewa: "Waktu berjalan menyusuri heningnya malam. Sang bulan mulai masuk ke peraduan. Suara kicauan anak-anak telah lenyap karena telah bergelut dengan sang waktu."
Inilah segelintir percakapan yang meraka lakukan untuk menghabiskan waktu disaat langit menangis karena dunia yan telah rusak. Sebuah memori yang sangat indah... Simfoni yang sangat indah.. Melodi yang sangat merdu...
No comments:
Post a Comment